Faktor-faktor dasar tidak bisa diciptakan oleh manusia, karenanya kepemilikannya ada pada Entitas Kosmik dan bukan pada individu-individu. Kita hanya bisa memanfaatkan unsur-unsur ini. Kita adalah bagaikan anggota gabungan keluarga yang ada di bawah sistem hukum Da’yabha'ga (sistem warisan) sebagaimana dikotbahkan oleh Shrii Jiimutabahana Bhattacharya.
Alam semesta ini adalah merupakan warisan bagi kita semua. Kita adalah gabungan keluarga universal, Parama Purus'a (Kesadaran Kosmik) adalah Bapak Yang Agung. Sebagai anggota gabungan keluarga, kita hendaknya hidup dengan kebijaksanaan/motto "Hidup dan membiarkan yang lainnya hidup." Potensi dunia baik yang tereksploitasi maupun yang tidak tereksploitasi bukan milik orang-orang tertentu, dan bukan pula milik negara tertentu. Mereka hanya bisa menikmati potensi-potensi ini. Kita bisa memanfaatkan semua kekayaan duniawi dan supraduniawi dengan menganut prinsip warisan Kosmik. Ini dharma sosial kita. Tetapi ini bukan semata-mata dharma sosial kita namun juga merupakan pendekatan logis dan rasional. Inilah filsafat sosial yang sebenarnya.
Ada kesamaan tak terbatas dari relativitas dalam skala universal. Karenanya tidak ada aturan atau kebijakan pemerintah tentang warisan yang dapat dipandang sempurna karena semua itu terdapat dalam relativitas. Jika kita ingin membangun kebijakan yang sempurna dalam bidang duniawi dan supraduniawi, kita akan pasti tergantung pada sesuatu yang Absolut. Alam semesta ini yang merupakan proyeksi psikis Jiwa Kosmik, merupakan ciptaan relativitas, sedangkan kepemilikannya ada pada Makrokosmos. Syarat bagi kebijakan sosial-politik yang sempurna haruslah ada perpaduan yang harmonis antara relativitas dengan yang Absolut.
Jika kita menerima prinsip-prinsip rasional tentang warisan kosmik, masalah-masalah orang asing dan pribumi tidak akan timbul. Seluruh alam semesta ini adalah warisan milik kita semua, dan kita adalah anggota-anggota masyarakat Kosmik. Kita bebas untuk bergerak dan berpindah kemana saja kita suka. Ada kehausan/keinginan yang tak terbatas pada mikrokosmos, dan kehausan seperti ini tidak bisa dipuaskan dengan mendapatkan kekayaan duniawi.
Kerinduan kita meliputi tiga aspek, yaitu:
- Fisik
- Mental
- Spiritual
Mikrokosmos berusaha memenuhi keinginan duniawinya yang tak terbatas melalui sumber-sumber duniawi yang walaupun sangat besar namun terbatas. Oleh karena itu kehausan duniawi yang tak terbatas akan tetap saja tak terpuaskan selamanya, walaupun mikrokosmos itu menjadi penguasa seluruh planet dunia. Makanya penting untuk mengarahkan kehausan duniawi (yang tak terbatas) ke arah pencarian psikis dan spiritual. Di antara ketiga strata ini, dunia psikis dan spiritual bersifat tak terbatas, maka tidak akan ada benturan eksploitasi dalam pemuasan kehausan dalam tingkatan ini. Jika tidak demikian maka keinginan-keinginan fisik yang tak terpuaskan akan tetap saja dalam bentuk potensial, perlahan-lahan memperoleh momentum dan akhirnya memberontak.
Kebutuhan manusia meliputi tiga aspek. Ananda Marga ingin mengarahkan kebutuhan fisik yang tak terpenuhi menuju pencarian psikis dan spiritual. Kewajiban Renaissance Universal (Kebangkitan Universal) adalah membuat seruan-seruan intelektual, dan tugas Proutist (para pendukung Prout) adalah mengawasi apakah hukum dan peraturan dijalankan dengan ketat atau tidak. Jika tidak diterapkan dengan ketat atau jika melanggar prinsip-prinsip Yama dan Niyama (prinsip-prinsip moralitas), penerapannya harus dilakukan dengan menciptakan tekanan-tekanan situasi.
Harus ada pendapatan dan distribusi rasional kekayaan dunia, jika tidak maka kedamaian dan ketenangan masyarakat akan terganggu. Batas perkapita dari pendapatan harus ditetapkan menurut sumber-sumber kolektif masyarakat universal.
Untuk mewujudkan ideal pendapatan dan distribusi rasional sumber-sumber duniawi, pendekatan pertama kita adalah spiritual, kemudian psikis. Apabila pendekatan psikis juga gagal maka penggunaan kekuatan dapat juga dilakukan untuk kepentingan yang lebih besar bagi masyarakat. Mereka yang mencoba mengabaikan perjuangan ini adalah mengingkari kewajiban kemanusiaannya.
Kemajuan umat manusia selalu merupakan kemajuan resultan [akibat usaha manusia]. Kecepatan kemajuan akan dipercepat oleh benturan dan gesekan. Penggunaan kekuatan merupakan esensi kehidupan, faktor dasar, semangat kehidupan. Mereka yang menentang penggunaan kekuatan adalah munafik. Kurangnya penggunaan kekuatan berarti kematian. Perlunya penggunaan kekuatan selalu kita rasakan setiap jam, setiap saat. Tanpa penggunaan kekuatan berarti kehidupan ini tidak ada artinya baik secara jasmani, mental maupun spiritual. Anti penggunaan kekuatan adalah kebohongan (bogusisme).
Jagat raya ini adalah obyektivitas psikis yang terproyeksikan dari Makrokosmos. Segalanya milik Entitas Kosmik. Kita hanya berhak menggunakan sumber-sumber yang ada di alam semesta ini; sedangkan hak milik ada pada Bapak Yang Agung. Para pemilik tanah bukan para penyewa maupun para tuan tanah. Propaganda yang menyatakan kepemilikan ada pada orang-orang yang kerja keras adalah salah dan tidak masuk akal dan hanya akan menimbulkan konflik dan kekacauan. Dengan menerima prinsip-prinsip warisan kosmik, kita berhak menggunakan sumber-sumber di alam ini sebaik-baiknya menurut kemampuan kita.
Para tuan tanah jangan diberikan kompensasi apapun untuk sosialisasi tanah. Tuntutan yang bersifat rasional adalah jika pemilik adalah seorang janda, laki-laki tua, atau seorang bocah, mereka harus diberi gaji atau beasiswa; pemuda-pemuda pengangguran mesti mendapatkan pekerjaan. Para tuan tanah kecil yang tidak memiliki sumber-sumber lain untuk kehidupannya hendaknya diberikan pertanggungan. Dalam hal prinsip, sistem kompensasi tidak dapat diterima.
No comments:
Post a Comment