Pages

Jul 20, 2007

Kepemimpinan moralis

Dalam semua perjalanan kehidupan saat ini, bayangan gelap immoralitas begitu cepat mengambil wujud yang pasti dan menghambat kemajuan umat manusia. Kekuatan moral yang sangat kuat diperlukan untuk menghapus kekotoran immoralitas ini. Seseorang tidak bisa mengharapkan kekuatan moral ini dari kekuasaan pemerintah yang dijalankan dalam struktur demokrasi. Kita bisa berharap dari penyelesaian non-politik. Pemerintah, apakah itu fasis, imperialis, republikan, diktator, birokratik atau demokrasi, sudah pasti menjadi tirani jika tidak ada kekuatan moral untuk mengontrol aktivitas tak terduga dari para pemimpin atau partai dalam kekuasaan. Aktivitas amoral dari pihak pemerintahan membangkitkan kemarahan massa.

Masyarakat kelas menengah, dengan intelek mereka yang berkembang tersulut oleh masalah-masalah keuangan, mengambil bagian penting dalam pergolakan massa menentang kekuasaan teror, dan akhirnya suatu perubahan dalam simbol kekuasaan terpengaruh oleh sektor kesadaran politik masyarakat. Di bawah aturan demokratik, masyarakat kelas menengah yang berperan sebagai bagian dari pemerintah menemukan bahwa sangat sulit untuk angkat bicara secara aktif melakukan protes. Mereka sesungguhnya para penderita yang bisu yang tak pernah diperhatikan. Inilah kemunduran paling parah dari sistem pemerintahan demokrasi.

Perjalanan sejarah umat manusia membuktikan bahwa jatuhnya pemerintahan tertentu menjadi tak terelakkan jika berlangsung bertentangan dengan aspirasi kolektif masyarakat kelas menengah. Di negara yang pendidikannya terkebelakang, di mana masyarakatnya kebanyakan tidak memiliki kesadaran politik, pidato dan praktik orang-orang 'dewasa' menggerogoti perangkat pemerintahan. Pemerintah menunjukkan permusuhan terhadap aspirasi masyarakat kelas menengah karena pemimpin-pemimpin munafik tidak bisa membeli suara mereka atau membodohi mereka dengan janji-janji yang muluk-muluk. Para pemimpin yang korup menjalankan kelicikannya untuk membeli suara orang yang pendidikannya kurang. Semakin licik kandidat itu semakin sukseslah mereka. Oleh karena itu pembentukkan kelompok sadar-politik atau yang lebih baik kelompok berpendidikan politik, sangatlah penting di setiap negara untuk memeriksa kebiasaan korupsi di antara para pemimpin politik.

Dunia bergerak begitu cepat, dan pada setiap langkah perlunya kelompok-kelompok sedemikian itu dirasakan sangat mendesak. Para pemuda membentuk suatu bagian penting yang bisa dinamai kelompok-politik terpelajar, dan kelompok pelajar merupakan seksi lain darinya. Defisiensi dalam struktur politik menyebabkan kemerosotan dalam sistem pendidikan, oleh karena itu sangat mempengaruhi para pelajar ini. Pemerintah, menjadi kekuatan ekonomi di balik universitas, memaksa universitas untuk memainkan peranan memprihatinkan sebagai "pelayanmu yang paling patuh". Tujuan sejati pembentukan organisasi Proutist adalah untuk meletakkan pengawasan moral pada praktek-praktek amoral dalam kehidupan individu maupun kolektif.

Pada saat sekarang para politisi menyimpang-arahkan para pelajar untuk kepentingan egonya sendiri. Bagian-bagian tertentu dari para pelajar menjadi seperti wayang di tangan mereka. Mereka telah kehilangan keorisinilannya, dan karenanya tidak mampu berkerja sebagai pengawas moral. Kalian para Proutist hendaknya bekerja sebagai kelompok non-politik yang dengan ketat menjalankan prinsip-prinsip moralitas (Yama dan Niyama).

Mereka yang memiliki filsafat yang benar dan sadhana spiritual yang benar yang didasarkan pada prinsip-prinsip Yama-Niyama akan menjadi pribadi-pribadi penuntun masyarakat di masa depan. Adalah merupakan kewajiban orang-orang yang sudah sadar untuk mengambil-alih kekuatan fisik dan kepemimpinan intelektual dari tangan-tangan politisi hipokrit. Para politisi tidak ada gunanya bagi masyarakat karena mereka sibuk dalam urusan fitnah dan pembodohan dan tidak ada lagi yang lainnya.

Jika para sadvipra (kaum revolusioner yang taat mengikuti Yama dan Niyama) mendapatkan dukungan massa yang aktif, maka terjadinya revolusi tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dalam hal dimana suatu pemerintahan menerapkan acuan Prout, peranan sadvipra akan sangat menentukan. Jika Prout tidak diterapkan oleh suatu pemerintahan maka revolusi fisik pasti akan terjadi dan akhirnya kekuasaan akan berpindah ke tangan para sadvipra.

Tujuan para politisi hanyalah untuk menggapai kekuasaan. Mereka membodohi khalayak dengan mengumbar janji-janji muluk. Oleh karena itu sangat perlu masyarakat terdidik secara politik, sehingga para politisi tidak bisa lagi menipu mereka. Waktunya akan tiba di mana segala tipu muslihat mereka akan gagal dan masyarakat akan membuka kedok mereka tentang pengabdian sosial. Pada saat ini masyarakat pada umumnya tidak sadar secara politik. Kaum intelegensia mengeksploitasi ketidaktahuan mereka. Merupakan kewajiban para Proutist untuk menentang para intelegensia.

Harus ada milisi dunia, tetapi jumlah kekuatan militer harus dikurangi secara perlahan. Sekalipun setelah terbentuknya pemerintahan dunia, konflik intra-unit dan antar-unit tidak akan sirna. Oleh karena itu keberadaan militer tetap diperlukan. Penciptaan merupakan hasil dari pertarungan antara Vidya (daya introversi) dan Avidya (daya ekstroversi), oleh karena itu militer akan menjadi suatu bagian yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat.

No comments:

Post a Comment