Setiap perbuatan berasal dari dan dilaksanakan dalam pikiran, yaitu oleh tiga komponennya, buddhitattva, ahamtattva, dan citta. Citta harus mengambil bentuk, atau menjadi akibat, dari setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia (citta mengambil bentuk perbuatan buddhitattva dan ahamtattva dengan bantuan sepuluh organ atau indriya). Ini akan berarti bahwa citta menanggalkan wujud normalnya dan bermetamorfosa menjadi wujud dari akibat suatu tindakan. Misalnya, citta harus menjadi sebuah buku agar bisa melihat buku. Pikiran manusia harus meninggalkan wujud normalnya dan mengalami deformasi agar dapat melaksanakan sepenuhnya suatu perbuatan.
Terbentuknya dan adanya pikiran adalah karena pengaruh Prakrti pada kesadaran, dan bila kesadaran mengganggu status normal pikiran dengan memberinya inspirasi untuk berbuat, maka itu tidak ditolerir oleh Prakrti. Prakrti, yang merupakan factor yang mendominasi, mengakibatkan reaksi atas setiap aksi atau tindakan dan membawa pikiran kembali ke status semula. Ini disebut karmaphala. Jadi karmaphala adalah manifestasi dari buddhitattva. Buddhitattva dan rasa “aku” adalah entitas yang sama. Maka dari itu hanya rasa “aku” manusia saja, yang begitu menjadi kasat, yang ditransformasikan menjadi citta. Jadi manusia itu sendiri menjadi hasil dari tindakan mereka sendiri, dan apapun yang dilihatnya, diraskannya, didengar, disentuh atau diciumnya adalah rasa “aku” mereka sendiri atau diri mereka sendiri yang telah bertransformasi.
Buddhitattva memberi inspirasi untuk berbuat. Ahamtattva melaksanakan perbuatan, dan citta harus menjadi hasil dari pelaksanaan itu. Buddhitattva, ahamtattva, dan citta merupakan unsur pikiran, dan dengan demikian pikiranlah yang berbuat. Adalah pikiran yang menanggung semua akibatnya. Dia yang menabur benih akan memanen. Kesadaran unit (atman) berada di luar jangkauan pikiran, dan karenanya tidak berbuat maupun menanggung konsekwesinya. Kesadaran unit hanya penonton dalam tubuh manusia.
Proses reaksi yang mengembalikan pikiran ke bentuk semula, perubahan bentuknya disebabkan oleh perbuatan pikiran, dialami sebagai karmaphala (akibat dari perbuatan). Intensitas yang digunakan saat melakukan perbuatan dan dengan demikian membuat deformasi pada pikiran, akan mengakibatkan intensitas yang sama dalam reaksi atau karmaphalanya. Tekanan yang digunakan melawan Prakrti dalam menyebabkan deformasi pada pikiran akan dihadapi sedemikian rupa agar pikiran kembali ke bentuk normalnya. Misalnya, bola karet ditekan dengan jari akan membentuk cekungan, namun begitu dilepas akan kembali ke bentuk asli normalnya. Jari akan mengalami
Sesuai hukum Prakrti, seseorang akan mengalami rekasi atas semua perbuatan mereka, baik ataupun buruk. Misalnya, bila seseorang mencuri dan mengakibatkan penderitaan pada orang yang barangnya dicuri, pencurinya akan membentuk distorsi dalam pikirannya dengan menggunakan kemampuannya menimbulkan rasa sakit. Pikiran akan bereaksi untuk menyingkirkan distorsi ini, dan dia akan mengalami, sakit dalam jumlah yang sama (dalam ukuran mental) sebagai akibat dari reaksi ini. Demikian pula, bila orang dengan perbuatannya membawa kebahagiaan pada orang lain, maka mereka, sebagai akibat dari reaksi pikiran untuk mencoba kembali ke bentuk normal, mengalami jumlah kebahagiaan yang sama. Ini karena menurut hukum Prakrti orang akan mengalami reaksi yang sama dan berlawanan arah dalam proses pikiran untuk memperoleh kembali bentuk normalnya.
Di bumi ini hanya manusia yang memantulkan kesadaran secara penuh, dan dengan demikian hanya manusia yang dapat secara merdeka berbuat. Hukum Prakrti menghukum hanya aksi yang dilakukan secara bebas melawan keinginan-Nya. Maka mereka yang tidak mampu berbuat secara merdeka tidak akan menerima hukuman-Nya. Jadi akan tampak bahwa kecuali manusia tak ada makhluk lain yang mengalami karmaphala atas perbuatan mereka.
Hanya mereka yang berbuat yang mengalami reaksi (karmaphala); tidak ada orang lain yang dapat menggantikan untuk mengalaminya.
Yang dapat dilakukan hanya mempercepat atau memperlambat kecepatan reaksi-reaksi itu yang akan membawa pikiran kembali ke keadaan normal. Misalnya, reaksi-reaksi yang mestinya membutuhkan waktu satu bulan, dengan bantuan Tantra, dapat diselesaikan dalam sehari atau setahun dengan mempercepat atau memperlambat kecepatan reaksi-reaksi, namun tidak akan pernah dapat dilenyapkan sama sekali. Seseorang dapat meminjam seratus rupee dengan kondisi bahwa jumlah yang sama dikembalikan dalam waktu sebulan. Jangka waktu pengembalian uang dapat diperpanjang, namun pengembalian uang tidak dapat dihindari. Demikian pula jika seseorang yang memiliki kredit 150 rupee dalam akunnya dengan syarat bahwa mereka akan mengeluarkan uang dalam sebulan dengan kecepatan 5 rupee sehari, dapat saja mengeluarkan seluruh 150 rupee dalam sehari.
Cara mengalami reaksi dapat diubah dengan bantuan latihan tantra, tetapi mengalami reaksi itu , atau nasib, tidak dapat dihindari. Karmaphala atau reaksi-reaksi dari perbuatan seseorang harus dialami oleh orang itu, dan paling jauh hanya intensitas penderitaannya pada suatu waktu dapat dikurangi atau ditambah dengan memperlambat atau mempercepat kecepatan reaksi-reaksi itu. Adalah mungkin bahwa kondisi pengembalian seratus rupee sekali bayar menjadi terlalu berat bagi yang berhutang dan dia mungkin akan menderita kesusahan mental yang berat, namun kalau jumlah yang sama dikembalikan dalam beberapa pembayaran dengan jumlah yang lebih kecil mungkin yang berhutang tidak merasakannya sama sekali. Jangka waktu penderitaan dengan demikian diperpanjang dengan bantuan latihan-latihan Tantra dengan hasil bahwa dia tidak merasakan intensitas derita dan berkesimpulan salah bahwa dia telah berhasil menghindari atau menghentikan karmaphala karena grahashanti (menetralisir pengaruh bintang-bintang).
Misalnya, ketika membaca masa depan seseorang didapati bahwa dia akan menderita secara mental karena patah tulang lengan, memang mungkin untuk menghentikan patah lengan itu dengan bantuan grahashanti (menetralkan pengaruh bintang-bintang). Namun besaran derita mental tidak akan berubah atau menghilang dengan itu. Deritanya dapat disebar selama waktu yang lebih panjang dengan kecelakaan-kecelakaan yang lebih kecil. Misalnya, tangannya dapat tergores, dan kemudian mungkin dia jatuh sakit. Orang itu akan menderita dalam beberapa kali kejadian sampai besaran deritanya sama dengan derita mental yang harus diterimanya dari patah lengan.
Seperti halnya bahwa mungkin saja untuk memperpanjang jangka waktu mengalami reaksi-reaksi dengan bantuan grahashanti, juga mungkin untuk mempersingkat jangka waktu itu. Beberapa orang menggunakan beberapa batuan seperti safir biru untuk mengubah cara mereka mengalami reaksi itu. Mungkin saja bahwa dengan cara itu dia memperoleh rejeki besar memenangkan lotere atau mendapat promosi jabatan. Ini membuat orang percaya bahwa semua ini berkat grahashanti, namun sebenarnya tidak begitu. Misalnya, seribu rupee yang diperoleh seseorang sebagai hadiah lotere berkat pengaruh safir biru, adalah uang orang itu sendiri yang dijadwalkan untuk diterimanya dalam jumlah yang sedikit-sedikit selama jangka waktu yang lama. Uang itu diterimanya dalam satu pembayaran, dengan tidak meninggalkan sedikitpun selama waktu pembayaran sisanya. Namun tetap saja menerima jumlah yang sangat banyak sekaligus membuatnya percaya bahwa grahashanti, atau mengenakan safir biru, telah merubah nasibnya.
Sebenarnya, nasib atau mengalami reaksi-reaksi (karmaphala) tak pernah dapat diubah. Hanya waktu lamanya reaksi dapat diubah. Itu sebabnya mereka yang terus melakukan latihan intuisional (sadhana) dengan niat memperoleh pembebasan, mengalami kenikmatan dan sakit, kebahagiaan dan kesusahan secara cepat, sedemikian sehingga mereka dapat selesai mengalami reaksi-reaksi dalam jangka waktu sependek mungkin. Mereka yang menginginkan pembebasan (mukti) menghendakinya terjadi dalam kehidupan ini, dan dengan demikian mereka mengalami semuanya dengan cepat, sesuai dengan potensi reaksi-reaksi (samskara) mereka, sedemikian sehingga tak ada sisa untuk kehidupan yang akan datang dan mereka dapat memperoleh pembebasan dari keterikatan Prakrti.
No comments:
Post a Comment