YOGI: CAN A YOGA TEACHER SURVIVE WITHOUT ABILITY TO DO HANDSTAND?
LORD SHIVA: I NEVER POSTING MY HAND STAND PHOTOS.
Okelah, judulnya saja bahasa English ya, lanjut artikel bahasa Indo. #apadaya:D
Menjadi pengajar yoga dan menjadi seorang murid yoga itu tidaklah sama. Meskipun sama-sama melakukan yoga namun praktisi yoga akan memisahkan hal ini menjadi 2 hal yang berbeda. Untuk menjadi seorang guru yoga yang baik, seharusnya dia menjadi murid yoga yang baik dahulu, dan buka hati dan pikiran untuk belajar berbagai hal mengenai yoga dari berbagai jenis aliran yoga. Dengan begitu lalu dia di kemudian hari mampu memposisikan dirinya untuk mendalami satu jenis yoga yang sesuai dengan dirinya. Mengembangkan diri, menundukkan ego, menaruh hormat dengan guru yoga lainnya dan menjadi pribadi yang berkualitas, berdedikasi yang tinggi di dunia yoga; juga hal yang tidak kalah penting. Secara perlahan hal ini akan membentuk kepribadian sesuai dengan prinsip-prinsip yoga yang sesungguhnya. Dan pada saatnya nanti saat mulai mengajar yoga, dia layak untuk disebut guru yoga dan dihormati oleh para muridnya.
Tentu ini akan memiliki cerita yang berbeda jikalau seorang yang awam yoga dan ingin terjun ke dunia yoga, yangmenurutnya adalah sebuah bisnis yang katanya “menjanjikan”. Mungkin awalnya mencoba beberapa pose yoga dan ternyata bisa, … dan lalu melihat dan meniru yoga di youtube dan ternyata bisa, lalu mulai “invest” di yoga dengan mengikuti YTT yang sudah tentu harganya tidak murah. Ya, sebuah pendekatan instant untuk menjadi guru yoga dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang banyak di kemudian hari. Trus apa dong yang bisa membuat dirinya cepat dikenal dan lalu menaikkan rating #bisnisyoga? jawabanya pasti: postingan pose yoga yang seru-seru di sosmed. Benar saja, dengan kemampuannya melakukan pincha, handstand, arm balancing etc… maka dengan cepat followernya bertambah. Apalagi setiap hari postingannya “hanya” pose-pose yoga dan quote yang menyadur dari orang lain. Hmmm… bisnis yang sangat gampang untuk menjadi seorang guru yoga yang seolah-olah seperti yogi kelas dunia. Lanjut lagi, ternyata perusahaan yang merekrut guru yoga, untuk mendapatkan guru yoga baru seringnya hanya melihat postingan di Instagram saja, penilaian berikutnya adalah bersifat fisik, berbadan bagus dan berparas menarik sangatlah menjual. Dan lanjut lagi, murid-murid yoga saat ini lebih suka diajar oleh guru yoga yang termasuk kategori “yoga star” di instagram. Apalagi setelah kelas lalu posting foto yoganya bersama “yogastar” idolanya. That’s fine, kalau memang yoga star itu adalah guru yang hebat. Tapi banyak yg saya perhatikan, justru yang menjadi kategori itu sering adalah orang “aneh” Lagi lagi Instagram…Tapi yasudahlah.
Tidak heran, saat saya mengamati kelas yoga, sambil juga mengamati anatomi/fisik peserta yoga yang menurut analisa saya dia tidak akan bisa melakukan pose yoga tertentu, semisal Handstand sampai kapanpun, sampai dunia kiamat pun atau berlatih seribu tahun lagi… eh dengan gampangnya guru yoganya melontarkan kalimat yang kira-kira seperti ini: “Ayo coba lagi, terus berlatih setiap hari…kamu pasti bisa !” Yakin deh hasil yang didapat dari muridnya adalah “pasti bisa masuk rumah sakit” karena cedera. Hal ini sangat disayangkan. Sudah banyak orang merasa terjebak di dalam dunia yoga yang katanya “sehat” eh malah mendapat cedera; yang katanya “menjadikan orang hidup sederhana” eh malah kerjaannya shopping dan koleksi legging dan yoga mats yang harganya #taulah; yang katanya yoga bisa membuat lebih humble, eh malah menjadi sombong dan bahkan di kelas yoga mulai deh terjadi pengelompokan #gosipyoga lalu tidak bisa senyum #soksuci… Inilah yang akan terjadi apabila tradisi “guru yoga instan” yang bertujuan hanya ingin mengembangkan aspek bisnis yoga saja, terus berlanjut. bahkan ada juga guru yoga yang faham banyak sekali teori tentang meditasi, yang memakai banyak yoga aksesories, gelang, kalung… dan pasang muka serius saat mengajar kelas meditasi, yang pada kenyataannya dirumah tidak pernah ber Meditasi. Gak usah lanjut nanya deh, apakah dia pernah mencapai keadaan “Samadhi”? Mungkin saja dia sudah melupakan kata itu karena sibuk melakukan #handstand on the street. Padahal satu hal pencapaian terbesar di dalam yoga adalah Samadhi.
Adalah tugas kita sebagai murid yoga harusnya lebih cerdas memilih guru yoga yang baik, berdedikasi dan tetap low profile. Dan tugas besar mananti para guru yoga, mengajarkan yoga yang baik dan aman, ramah, ikhlas dan dipenuh cinta kasih … tanpa melibatkan ego didalamnya. Sehingga di akhir kelas kita bersama-sama layak untuk saling mengucapkan “Na’ma’ska’r”: Aku menghormati Pribadi Tertinggi yang bersemayam di dalam dirimu dengan ketulusan hati dan dipenuhi cinta kasih yang paling dalam.
NAMASKAR




No comments:
Post a Comment