Pages

Feb 11, 2010

Hati-hati Pengumbar Emosi (A Fauzi Yahya, Kompas.com)

KOMPAS.com - Terus terang, akhir-akhir ini, saya jadi makin enggan menonton acara televisi lantaran selalu terjebak menyaksikan tayangan saling memaki dan memarahi, baik yang dilakukan oleh artis-artis sinetron, para pengunjuk rasa, maupun yang terhormat para pemimpin dan wakil rakyat.

Perilaku emosi tidak sehat yang terus-menerus ditayangkan di media seolah mengajak kita untuk turut serta mendemonstrasikan emosi kebencian dan bersama-sama mempertontonkan kegusaran serta kepitaman.

Seorang teman yang suatu ketika bersama-sama "terpaksa" menyaksikan acara "umbar emosi" anggota DPR di layar kaca berkomentar dengan nada bertanya, "Lho, marah-marah demikian bisa memicu gangguan jantung, kan?"

Hormon stres

Sejak lama, para ilmuwan dipusingkan dengan kenyataan tidak sedikit serangan jantung terjadi pada orang-orang yang sesungguhnya tampak sehat-sehat saja dan hampir tidak punya faktor-faktor risiko, seperti tekanan darah tinggi, kencing manis, ataupun hiperkolesterol. Lalu apa pemicu serangan jantung itu? Jawabannya, perhatikan temperamen mereka.

Perasaan negatif, termasuk marah, memang bukan sekadar urusan emosi semata, melainkan dapat berefek buruk pada fisik, seperti jantung. Pada saat amarah meluap, hipotalamus, bagian otak seukuran kacang almond, yang terletak tepat di atas batang otak, memerintahkan kelenjar anak ginjal untuk membanjiri darah dengan hormon katekolamin dan kortisol.

Hormon-hormon stres ini akan membuat jantung berdegup lebih kencang, tekanan darah melonjak, otot-otot menegang, napas memburu, dan asam lambung meningkat. Perasaan negatif yang terus-menerus dipelihara membuat keping-keping darah menjadi mudah lengket satu sama lain.

Dalam tiga puluh tahun terakhir, terdapat bukti-bukti bahwa cara orang berpikir, merasa, dan bersikap dalam mengatasi stres berpengaruh kuat, bahkan dapat berdampak fatal terhadap jantung.

Melalui ribuan wawancara dengan pasien serangan jantung, para ilmuwan mendapati bahwa perilaku mudah naik pitam, lepas kontrol emosi di ruang kerja, memisahkan diri dari teman-teman dan keluarga, serta terus mengalami depresi bisa menggerus fungsi pompa jantung.

Penelitian yang dilakukan ilmuwan asal John Hopkins University membuktikan, mereka yang bertemperamen panas walaupun berusia muda berisiko tiga kali lipat menderita penyakit jantung sebelum berusia 55 tahun.

Para ilmuwan asal Inggris, saat menyelidiki selama 7 tahun orang-orang yang diketahui sehat secara fisik, tetapi cepat tegang dan mudah jengkel, menemukan, ternyata sesungguhnya kesehatan orang-orang itu rapuh.

Para pengumbar emosi ini ternyata 54 persen lebih kerap mengalami stroke, payah jantung, dan menjalani operasi jantung atau pemasangan "cincin" pada pembuluh jantung dibanding mereka yang bebas dari perasaan negatif. Hasil studi dengan peneliti utama, Mark Hamer, PhD., dari University College, London, dipublikasi dalam Journal of the American College of Cardiology (JACC) pada Desember 2008.

Sebuah studi yang dipublikasikan di JACC edisi Maret 2009, walaupun dengan sampel terbatas, untuk pertama kali membuktikan secara langsung adanya keterkaitan emosi dengan instabilitas listrik jantung yang berpotensi memunculkan irama jantung ganas.

Hidup tidak sehat

Bagaimana bisa perasaan negatif mengganggu jantung? Pertanyaan ini mendorong para ahli melakukan studi untuk menjawabnya. Mereka ternyata mendapati adanya korelasi antara sifat mudah stres serta naik pitam dan pola hidup tidak sehat. Para pemarah cenderung banyak merokok, kecanduan alkohol, pola makan tidak terkontrol, dan kurang berolahraga. Perilaku tidak sehat ini akan memudahkan timbulnya kerak-kerak (plak aterosklerosis) pada dinding dalam pembuluh yang memperdarahi jantung (pembuluh koroner).

Letupan emosi berpotensi meretakkan atau memecahkan kerak-kerak yang rapuh pada dinding dalam pembuluh koroner. Bila kerak itu retak atau pecah, gumpalan darah akan mudah terbentuk sehingga pembuluh koroner tersumbat. Sumbatan liang koroner ini bisa menyebabkan serangan jantung karena pasokan oksigen dan zat-zat nutrisi bagi sel-sel jantung terhenti.

Studi membuktikan, hati (lever) para pemarah, baik laki-laki maupun perempuan, memproduksi lebih banyak protein peradangan yang disebut sebagai C-reactive protein (CRP). Pertanda peradangan ini dikenal luas berperan sebagai prediktor penyakit jantung dan stroke.

Hambat penyembuhan

Emosi yang tidak sehat bukan hanya memicu penyakit, melainkan juga meruntuhkan keberhasilan tindakan atau pengobatan. Berbagai riset secara konsisten membuktikan, walaupun pengobatan ataupun operasi jantung secara teknis berhasil, para penderita, baik laki-laki maupun perempuan, tidak lantas dapat kembali hidup normal.

Bila masih mudah marah dalam kehidupan sehari-hari, Anda bisa jadi akan kembali ke ruang gawat darurat walaupun pengobatan atau operasi sebelumnya sukses.

Untuk kesehatan jantung, kita perlu lebih dari sekadar mengontrol kadar kolesterol atau mengonsumsi makanan kaya akan serat dan buah-buahan.

Nieca Goldberg, pakar jantung dari rumah sakit Lenox Hill, New York, pada kata pengantar buku Thriving with Heart Disease, yang ditulis oleh Wayne M Sotile, menuliskan, "for total heart health, you need a healthy mind".

Jadi, kepada para pemimpin dan wakil rakyat yang terhormat, kendalikan emosi Anda agar jantung (baca juga sebagai republik ) ini tetap sehat.

A FAUZI YAHYA Dokter Spesialis Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin/Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

No comments:

Post a Comment